Beberapa Fakta Pahit Menjadi Mahasiswa Indonesia
Di sinetron Indonesia kerap digambarkan bahwa mahasiswa hidupnya nyantai. Nongkrong dikafe santi sambal pacarana.
Realitanya mahasiswa Indonesia itu sangat sibuk dan banyak realita pahit yang kerap dihadapi. Berikut ini kami tuliskan untuk beberapa fakta pahit mahasiswa Indonesia.
Tugas Kuliah Yang Bertubi-Tubi
Semasa masa SMA, SMK, MA mereka biasanya hanya diberi tugas oleh gurunya 1 bulan sekali. Kalau Anda naik tingkat ke mahasiswa maka Anda akan berhadapan dengan tugas kuliah yang bertubi tubi biasanya dalam 1 minggu ada 8 tugas kuliah yang harus diselesaikan dalam waktu 2 harian saja.
Uang Cepat Habis Karena Disuruh Dosen Membeli Modul Bukunya
Banyak mahasiswa yang kaget uangnya cepat habis karena disuruh dosen untuk membeli modul buku milik dosen yang tebalnya lebih dari 250 halaman. Gaji dosen di Indonesia sangat kecil membuat dosen terpaksa berjualan bukunya di kelas agar dibeli mahasiwanya sebagai tambahan penghasilan bagi dosen.
Sayangnya bagi mahasiswa yang uang saku dari orang tuanya sedikit maka akan berakibat pada uang mahasiswa menjadi cepat habis. Hal ini karena mahasiswa tersebut tidak melakukan fotocopy buku yang lebih murah.
Revisi Skripsi Berkali Kali
Bagi mahasiswa yang sudah memasuki semester akhir tentu sudah sering dengar kan bahwa mereka yang sedang skripsi kerap mengalami revisi skripsi berkali-kali. Secerdas apapun mahasiswa tersebut dalam menulis skripsi, proses revisi puluhan kali seringkali sudah jadi makanan hampir semua mahasiswa.
Karena memang pihak kampus mewajibkan mahasiswanya untuk ikut aktif dalam bimbingan sebagai test kedisiplinan dan kerajinan.
Sering Mengulang Mata Kuliah
Di kampus tidak semuanya kegiatan akademik berjalan mulus. Kadang ada juga pas lagi apes mendapatkan mata kuliah yang sulit ditambah dosenya killer dan pelit nilai. Ada mahasiswa yang mendapatkan nilai E dan terpaksa harus mengulang lagi mata kuliah tersebut di semester depan sebagai syarat untuk wisuda.
Target lulus kuliah yang tadinya 8 semester bisa saja molor menjadi 12 semester. Hal ini seringkali terjadi dan kerap membuat mahasiswa mengalami disorientasi akademik sehingga ada yang menyerah lalu drop out.
Pertemanan yang Semakin Sibu
Waktu semester muda (1-3) teman-teman di kelas masih sering aktif ngumpul, nongkrong bareng, ngerjain tugas kelompok bareng. Namun ketika beranjak semester 5 ke atas kesibukan lingkaran pertemanan kerap muncul.
Semester tua sudah mulai ada yang memikirkan untuk mencari penghasilan tambahan sehingga di semester ini banyak mulai kuliah sambal kerja sehingga waktu nongkrong bareng teman sekelas sudah tidak ada lagi.
baca juga: Penerapan Mekanika Fluida Dalam Berbagai Kehidupan
Bagi Anda yang suka akan kebersamaan tentu perubahan ini menjadi pil yang cukup pahit bagi Anda.
Mulai Goyah dan Tidak Yakin Dengan Prodi yang Sedang Di Tempuh
Pada semester 7-8 mahasiswa biasanya mulai goyah terhadap prodi yang ia sedang jalani sekarang ketika mendengar kabar bahwa kaka tingkat dengan prodi yang sama yang telah lulus banyak yang menganggur.
Realita ini membuat mahasiswa kerap bimbang mau tetap lanjutkan kuliah sampai lulus ataupun pindah jurusan.
Saran saya kalua Anda mengalami kebimbangan semacam ini, coba lebih banyak mengenali potensi diri dan bakat Anda. Kalau memang Anda benar-benar sangat berbakat di prodi yang Anda pilih coba tetap teruskan sampai selesai karena jika Anda sangat jago dibidang tersebut ada potensi Anda bisa juara dan jadi penguasa dibidang yang sedang Anda geluti.
Nah itulah beberapa fakta pahit menjadi mahasiswa di Indonesia. Semoga Anda bisa mengantisipasi realita pahit ini untuk kemudian bisa belajar mengatasinya.
